Saya kira saya masih punya waktu bersamanya.
Saya kira, lebaran tahun ini saya masih bisa mengunjunginya, begitu pula saat saya pulang libur semester nanti.
Saya kira, saya masih bisa menghabiskan waktu kunjungan singkat itu, walau hanya sekedar saling diam.
Saya kira, masih akan mendengar pertanyaan berulang itu darinya, “Kapan tamatnya? Gimana kuliahnya? Di Padang masih sering gempa?”
Saya kira, saya masih bisa mendengar cerita tentang kesehatannya, yang walau makin menurun tapi tetap terlihat segar.
Saya kira, masih bisa mendengar nostalgianya tentang saya saat masih kecil.
Dan… saya kira, saya bisa menunjukkan momen kelulusan saya nanti padanya, sekaligus menjadi cucu pertama yang memberi kebanggan ini.
Saya kira saya masih punya banyak waktu untuk itu… saya kira masih…
Maaf nek, maaf untuk kenangan yang seharusnya bisa kita buat.
Maaf untuk apa yang tidak bisa saya persembahkan untukmu.
Maaf untuk segala waktu yang seharusnya kita habiskan bersama.
Maaf untuk, airmata yang terlanjur tertumpah untukmu,
maaf untuk penyesalan ini, maaf…
Saya kira, saat ini saya masih punya waktu untuk mereka yang saya sayangi. Entah berapa lama, saya tak tau, saya harap masih cukup untuk menunjukkan bahwa saya sayang mereka.
Entah siapa yang akan mendahului nantinya, bisa saya, atau salah satu dari mereka, saya harap waktu yang tersisa tak akan tersia-sia karena keangkuhan, sehingga nantinya timbul penyesalan mendalam. Pun, penyesalan itu ada, yang pasti akan ada, saya ingin meminimalisirnya.
Tapi saya harap, kami masih punya banyak waktu. Banyak sekali…













1 Tanggapan ke “Sebelum Terlambat”