Arsip untuk Mei, 2008
Diproteksi: (Tak Ada) Jejak : japri
Diterbitkan Mei 31, 2008 Uncategorized Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentarTags: japri, salam perpisahan, sandi
Filosofi Rokok : Sehat Tanpa Berhenti Merokok
Diterbitkan Mei 30, 2008 Ngrumseh , Serius Sikit 27 KomentarTags: buku, kesehatan, opini, rokok
Sekitar dua minggu lalu saya sempat numpang baca di gramed membaca sekilas buku berjudul “Filosofi Rokok : Sehat Tanpa Berhenti Merokok“. Sepertinya buku yang ditulis oleh Suryo Sukendro ini cukup menarik. Ide yang ditawarkan penulisnya juga bagus dan logis.
Dari segi cover, memang biasa saja. Tipe buku yang biasanya saya lewatkan begitu saja kalau sedang ngubek-ngubek toko buku
Apalagi buku ini diletakkan di rak kesehatan, berdampingan dengan buku-buku diet yang bikin saya rada phobi mendekati area ini
, terkecuali lagi butuh. Hunting buku pelajaran misalnya, walau akhirnya gak jadi beli dan malah beli bajakannya atau malah di-copy aja
Nah, walau tidak membaca keseluruhan buku ini, saya berani aja bilang buku ini menarik. Kenapa? Kok berani-beraninya? Tentu ada alasannya lah bo’
Yuk mari dijajal!
Intermezzo (2)
Diterbitkan Mei 28, 2008 Ngrumseh 16 KomentarTags: iseng, jokes, kidding, lucu, man and woman
~Orang bijaksana adalah orang yang menyadari kalau ia tak tau apa-apa..~
Beberapa waktu lalu adek saya nanya, “Mbak, bagusnyo masuk mano yo?”
Haishhh.. saya bingung juga. Yang punya keinginan kan dia, tapi kalo dijawab terserah kok tidak membantu sama sekali ya..
Akhirnya saya jawab saja, “Yang jelas jangan masuk farmas* ya dek!”
“Kenapa?”, katanya.
Ngurangin saingan kerja nanti dong ah!
“Gini, tau sebenernya farmas* itu apa?”, kata saya.
“Ya gak lah. Makonyo, jelasinlah!”, si adek bilang.
Bayar dulu!
dan, ya.. saya coba jelasin semampu saya ke dia. Selayaknya anak jaman sekarang yang gak gampang puas, dia malah menjadi-jadi bertanya tentang jurusan lain yang saya sendiri gak ngerti, bahkan ada yang baru pertama kali saya denger
Terbata-batalah saya menjelaskannya. Mesti tanya sana-sini dulu, bahkan bela-belain gugling di tengah kesibukan blogging cari bahan
*lebay ah* Tapi, ada gunanya juga sih. Setidaknya bisa lebih mendekatkan saya sama si adek, yang selama ini kami jarang sekali ngobrol, jadi bisa diskusi panjang lebar tentang beberapa hal, walau ujung-ujungnya saya seperti bermonolog-ria, kayak ngomong sama dinding
Dan, seringnya, ceramah penjelasan saya jadi menggantung karna saya memang gak menguasai apa yang ia tanya, ini termasuk berbagai persoalan. Susah, saya gak enak ngeliat dia gak puas. Saya-nya juga jadi gak puas terhadap diri sendiri.
Yah.. setidaknya saya masih ingat dan mencoba untuk tetap ingat quote di atas. Memang, rasanya masih jauh perjalanan untuk jadi orang yang banyak tau. Untuk jadi orang bijaksana apalagi. Dan smoga saya dijauhkan dari sifat sok tau, juga bukan termasuk golongan sophis
*racauan di tengah persiapan ujian*
Mulutmu buayamu *bosen harimau terus sih
* Itu pelajaran yang saya petik dari kejadian kemarin. Walau apa yang terlontar dimaksudkan untuk hal baik, bisa saja tanggapan orang tak sebaik niat kita.
Pelajaran kedua, belajar untuk memilah mana masalah yang pantas-tidak pantas untuk diurusi. Saya selama ini selalu berusaha untuk tidak mencampuri masalah pribadi teman, saudara, kecuali mereka yang meminta saya untuk terlibat. Parahnya, dalam hal si KUMAN, saya tidak ikut campur saja bisa-bisanya difitnah seperti itu! Apalagi kalau saya benar-benar terlibat? Sorry-meyori ya bo’, urusan sini juga ada, buat apa ngerecokin situ? Rugiiiiiii!
Pelajaran ketiga, apapun perkataan orang tentang kita, yang penting orang terdekat percaya pada kita. Yang saya bilang “I am what you think” itu lho. Sebaik apapun saya kalo anda nganggep saya jahat, jahatlah saya selalu di mata anda, walau saya sudah bagi-bagi emas dan beras sampe ke Ethiopia
Pelajaran ketiga ini yang mikin saya meringis. Ironis, karena saya melihat dua hal yang sangat bertolak belakang. Di satu sisi, ada si KUMAN yang begitu dipercaya oleh keluarganya sehingga kebenaran di depan mata yang kami sodorkan tidak mereka gubris. Tipe kepercayaan yang membabi buta. Tapi itu urusan mereka. Kalo mereka lebih bahagia menelan kebohongan, terserah! Yang penting jangan ganggu kami lagi!
Di sisi lain, teman saya, si Bob, yang ternyata difitnah oleh orang yang notabene “orang suci”, tidak dipercaya oleh teman dan saudaranya, orang-orang terdekatnya. Sakit memang kalau difitnah, tapi lebih sakit lagi kalau tidak dipercaya oleh orang yang kita percaya. Memang urusan ini sudah beres, karna ikan busuk akan tercium juga baunya walau disembunyikan di gudang parfum.
Tapi.. ironis. Orang (yang menurut saya) pantas dipercaya malah tidak beruntung mendapat kepercayaan yang bisa menjadi kekuatannya untuk bertahan. Sebaliknya, orang BERMULUT ULAR, TUKANG BOHONG, KUMAN, PARASIT SEJATI malah sungguh beruntung bisa bergelimang kepercayaan itu. Tapi yaaaa.. sekali terbukti, habislah dia!
Nggak, saya gak nyumpahin, tapi seperti yang saya bilang soal ikan busuk, pasti akhirnya tercium juga. Walau entah kapan terjadinya nanti. Dan saya harap, semoga orang-orang terdekat si kuman bisa kuat menghadapi kenyataan itu nantinya.
Intinya, berhati-hatilah mempercayai orang. Berani mempercayai, berarti siap untuk dikhianati. Hfff…
Iya, mati sajalah kau, KUMAN!
Kuman kau! Main fitnah begitu!
Kuman kau! Bertindak seperti pengecut!
Kuman kau! Menyeret orang dalam masalah!
Kuman kau! Sok lugu, sok bertampang tak bersalah, sok berwajah seperti orang mau mati besok saja!
Kuman kau! Kuman! Kuman! Kuman!
Muak aku lihat kau, kuman!
Maaf, sedang sangat emosi. Saya tidak nemu kata-kata makian yang cocok untuk anak sial anak tak tau diri orang ini, she-must-not-be-named.
Ya, KUMAN! Itulah dia. Harus dibasmi! Bila ada bagian yang busuk, harus segera dienyahkan sebelum mencemari bagian lain. Dan ya, kami sudah terlanjur tercemar. Nama baik kami hampir, malah sepertinya sudah rusak. Gara-gara si kuman TUKANG BOHONG, si kuman BERMULUT ULAR, si kuman PERUSAK KEDAMAIAN!
Sabar? Ok.
Maaf? No Way!
Prepare for battle, kerugian kita tanggung bersama, guys! Habisi si kuman!
Orang bilang,
sembunyikan daun di tengah hutan. Itulah tempat terbaik.
Saya tanya, “Bagaimana dengan airmata?”
Lalu saya jawab sendiri, “Di pemakaman tentu, atau di bioskop, saat menonton film-film mellow. Jadi tak ada seorang pun yang akan bertanya, walau yang kau tangisi adalah hal yang jauh berbeda dari sangkaan mereka”
Dan ya, memang tak ada yang bertanya atau meragukanmu. Tapi, siapa sebenarnya yang hendak kau tipu? Dia? Mereka? Atau dirimu sendiri?
Bila jawabannya yang terakhir, hanya perih yang akan kau dapat, sayang. Karna kau merasa palsu. Padahal kau tak bermaksud untuk berpura-pura, cuma tak ingin tunjukkan luka, meski harus lakukan dusta.
Dan akhirnya, hanya kebencian yang tersisa. Mungkin dari mereka, untuk dirimu. Pasti dari dirimu, untuk dirimu sendiri.
Lalu apa yang tersisa?
Duka. Dan airmata.
Maka kau ulangi lagi, lingkaran setan terkutuk itu!
Tiada awal, tiada akhir, hanya berputar.
Habislah kau, sendiri.
ps. Bye










Mereka yang Lagi Ngerumpi