Peringatan dan Perhatian : Panjang, dan mungkin akan menyinggung beberapa pihak. Jadi, mohon maap lahir batin dulu yeeee?
Silahkan dinikmati kasus berikut. Disarankan untuk membacanya sambil menghirup minuman yang membuat anda rileks (karena agak njlimet bahasanya, seperti biasa
), dan sangat tidak disarankan dibaca saat-saat menjelang deadline (pastinya dong! Siapa juga yang mau?
)
Kasus :
Teman kamu tiba-tiba menelpon, tapi tidak kamu angkat karna sudah tengah malam dan kamu memang malas menjawab telpon-yang-mengandalkan-tarif-off peak. Keesokan harinya kamu sms balik si teman, bertanya ada kepentingan apa karna siapa tau ada info penting. Ternyata si teman malah langsung menelpon kamu dengan suara super manis dan nada membujuk menawarkan peluang bisnis yang bagus untuk kamu.
Eh, eh, kamu curiga aja kalo ini bisnis M*M itu. Dan yaaaaaa… benar ternyata! Uh oh, ketika ditanya kapan kamu ada di rumah, kamu masih bisa berkelit dengan bilang akan pergi keluar dan tak tau pulangnya jam berapa. Jadi aja kamu sengaja lama-lama pulangnya. Maen-maen dulu lah sekalian ngeceng luntang-lantung tak keruan di satu-satunya salah satu mall di kota kamu, padahal kamu biasanya paling males lama-lama di mall *bo’ong
Satu minggu berlalu tanpa ada kelanjutan kabar dari temenmu tadi. Kamu juga memang jarang nongol lagi di labor maupun jurusan fakultas karna frustasi males sehingga kamu gak pernah lagi ketemu temenmu itu, yang memang kedekatannya dengan kamu sebatas “calon” temen satu labor, bukan temen main apalagi temen curhat *oh.. please! ![]()
Kamu pun tenang dan hampir lupa dengan tawaran temen kamu tadi. Tapi… malang tak dapat ditolak, Untung rivalnya Donal Bebek, tadi malam temenmu itu nelpon lagi. (Damn! Pas lagi nulis ini dia nelpon LAGI! Uhh.. ngotot amat sih!
) Kamu curiga dia akan mengulangi tawaran yang sama dan kamu bukan orang yang tega menolak sekaligus gak mau meng-iya-kan tawaran ini. Yah.. namanya juga teman sendiri. Kalo orang lain kamu berani-berani aja nolak dengan tegas. Lha, temenmu ini bermulut manis dan agak pintar merayu.
Sulit…
Bingung…
Kenapa harus bingung? Tinggal tegasin aja secara baik-baik kalo kamu belum/tidak berminat, biar masalahnya cepet selesai. Ya kan?
Oh, untuk beberapa orang dan beberapa kasus tidak segampang itu lah. Ada tipe orang yang “lemah”, maka ia akan sulit menolak permintaan/ tawaran orang, terlebih dari teman. Di kasus lain yang serupa, orang yang menawarkan adalah teman dekat/sodara (adik, kakak, sepupu, om, tante) kamu sendiri. Aura dan khasiat rayuan mereka akan makin pekat karna setidaknya mereka sudah tau dimana titik lemahmu, yang sebenarnya agak ironis sih karna orang-orang dekatmu itu seharusnya sudah tau kealergianmu dengan bisnis macam ini (baca : hal-hal yang kurang kamu senangi).
Jadi, coba bayangkan diri kamu sebagi seorang yang tidak suka berkonfrontasi, sulit menolak secara langsung permintaan orang dengan alasan tidak mau menyakiti hati. Coba saja dulu berdiri sebagai pihak yang “lemah”. Kesampingkan sisi pribadimu yang (kamu anggap) tegas. Berandai-andai saja lah dulu kita, sekali-kali jadi si lemah gak ada salahnya tho?
Sudah?











Mereka yang Lagi Ngerumpi