Peringatan dan Perhatian : Hiperbola sangadh, tapi mengandung fakta di beberapa bagian
Alkisah pada masa tak lama berselang ini, seorang anak ibu-ayahnya mengalami derita hebat karena patah hati. Ia kehilangan pujaan hatinya yang raib entah kemana. Si anak ibu-ayahnya ini pun berusaha untuk tabah dan merelakan kehilangan ini karena katanya entah siapa segala sesuatu yang hilang ke dalam ketiadaan itu akan digantikan dengan yang lebih baik bila ia ikhlas (well, in some case it never been happened sih ya
).
Ia pun menjalani hari-harinya dengan sedikit gamang karena tak pernah terbiasa dengan ketiadaan pujaan hatinya. Ya. Ia bilang rela. Tapi ketika melihat orang lain bersama pujaan hatinya (umm.. belum tentu itu si pujaan hati sih, bisa aja cuma mirip), seketika ia hancur lagi.
Berkali-kali sudah ia jatuh, lalu berusaha bangkit. Belum sepenuhnya bangkit, tiba-tiba harus jatuh lebih dalam lagi. Menyedihkan memang, tapi itulah hidup, kawand!
Maka ia pun memutuskan untuk berdamai dengan derita itu. Ia berusaha untuk hidup berdampingan dengan si derita, mencoba untuk menempatkan si derita sebagai salah satu bagian keseharian hidupnya.
Konsekuensinya, ia pun dikenal sebagai penyendiri, padahal dulunya ia cukup akrab dengan teman-temannya. Oh well, tuduhan teman-temannya kalau ia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri dan tidak mau berbagi pun cuma ditanggapi dengan sebaris senyum simpul.
Dalam hatinya ia berkata, ia tak mau berbagi si derita dengan orang lain, walau sahabatnya sendiri. Biarlah orang cuma pernah melihatnya tersenyum dan tertawa. Airmata yang diakibatkan si derita cuma miliknya seorang. Hak pribadinya. Kalau yang tersisa dari pujaan hatinya hanya si derita, biarlah ia nikmati derita itu.
*sompret! Ini cerita kok desperate amat sih*
Waktu berjalan, dan roda kehidupan terus berputar (oh yeah!
). Ada masanya hidup terasa begitu melelahkan. Ada pula masa ketika hidup terus memberi keajaiban bagi mereka yang tidak putus asa terhadap kelelahan itu. Dan ya, keajaiban ternyata masih sudi menyapa si anak ibu-ayahnya ini. Keajaiban itu bernama “pelipur lara dia yang telah hilang”.
Ya, si anak ibu-ayahnya itu menemukan apa yang dicarinya selama ini. Bukan, bukan pengganti pujaan hatinya, karna tidak ada satupun yang bisa menggantikan pujaannya. Pujaan hatinya takkan pernah tergantikan dan akan selalu menempati satu porsi sisi hatinya (set dah!
), karna ia beranggapan bila orang terlalu mudah mengganti apa yang dulu disayanginya dengan yang lain maka ia sebenarnya tidak pernah benar-benar menyayangi apa yang dulu ia kira ia sayangi (Amin!
).
Seperti layaknya kisah-kisah telenovela yang merupakan kegemaran si anak-ibu ayahnya ini, penulis patut memberikan akhir bahagia padanya, walau pun kisah ini tentu belum berakhir. Ini cuma awal satu cerita baru dari rangkaian cerita yang membangun hidup si anak ibu-ayahnya ini. Ada cerita sedih, biasa saja, dan ada pula cerita bahagia.
Ya, saat ini, di ujung kisah kita hari ini, si anak ibu-ayahnya sedang cukup berbahagia meniti hari dengan mereka yang terkasih. Bukan pengganti pujaan hati, tapi mereka yang terkasih.
Iya, mereka yang terkasih, karena si anak ibu-ayahnya ini menemukan sekaligus tiga lelaki pelipur lara! Tuhan memang baik pada hamba-Nya 
Dan, ooohhhhh.. si anak ibu-ayahnya ini masih cukup yakin akan mendapatkan pujaan hatinya kembali. Apa? Terlalu absurd ya karena katanya ia sudah hilang, dan yang hilang itu jarang kembali? Oh, itu optimisme namanya bung! Hidup harus optimis kan? 
.
.
.
.
Dan, siapa mereka yang telah memberi kebahagiaan itu? Ah, cuma Athos, Porthos, and Aramis kok
Mereka yang Lagi Ngerumpi